Home » Bisnis » Pengamat Setuju Kendaraan Mewah Dipungut Cukai

Pengamat Setuju Kendaraan Mewah Dipungut Cukai

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis, Yustinus Prastowo mengatakan bahwa beberapa objek Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) akan lebih tepat jika dikenakan cukai. Hal tersebut dikarenakan PPnBM dikenakan atas barang yang memiliki eksternalitas sehingga harus diatur konsumsinya.

Misalnya, untuk mengurangi ketimpangan dan memenuhi rasa keadilan. “Contohnya, kendaraan bermotor, sebaiknya dikenai cukai atas dampak emisi karbon. Atas barang-barang yang tidak perlu dibatasi, cukai tidak tepat misalnya untuk apartemen dan rumah,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (6/11).

Yustinus melanjutkan, pengenaan cukai pada kendaraan bermotor, dasar pengenaannya berubah dari kapasitas silinder (centimeter cubic atau cc) yang berlaku untuk pengenaan PPnBM saat ini, menjadi emisi karbon. Menurutnya, di negara-negara maju, cukai telah dikenakan atas emisi karbon

Namun, ada pula kendaraan bermotor dengan harga mahal dan teknologi yang baik, yang menghasilkan emisi yang rendah. Kendaraan jenis tersebut, bakal tetap dikenai PPnBM dengan dasar pengenaan harga. Tentunya bertujuan untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat.

“Sehingga akan ada kendaraan mahal yang terkena PPnBM tetapi tidak terkena cukai karena emisi karbonnya rendah, dan sebaliknya,” ujarnya..

Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa pemerintah perlu membuat aturan yang lebih rinci yang mengatur pengenaan PPnBM dan Cukai. Pasalnya, irisan antara barang yang sebaiknya dikenakan PPnBM dengan barang yang dikenakan cukai sangat tipis. Bahkan, juga seringkali rancu.

Selain itu, tarif barang yang dikenakan cukai dari peralihan PPnBM juga perlu disesuaikan agar pengaturan dan pembebanannya lebih tepat. Menurutnya, perubahan termasuk ke dalam ekstensifikasi objek cukai yang dapat diusulkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ke DPR.

Sumber : kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*